Kamis, 02 April 2020

PERISTIWA PERJALANAN KE PLANET DAN BULAN (Tugas Matematika dan Ilmu Alamiah Dasar)




TUGAS MATEMATIKA DAN ILMU ALAMIAH DASAR

PERISTIWA PERJALANAN KE PLANET DAN BULAN




Oleh    :
NABILA AULIA PRATIWI                                   
(14519556)
1PA10

JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2019/2020






A.           PERISTIWA  PERJALANAN  BULAN
Bulan adalah satelit alami bumi satu-satunya dan merupakan satelit terbesar kelima dalam Tata Surya. Bulan juga merupakan satelit alami terbesar di Tata Surya menurut ukuran planet yang diorbitnya,] dengan diameter 27%, kepadatan 60%, dan massa ​1⁄81 (1.23%) dari Bumi. Di antara satelit alami lainnya, Bulan adalah satelit terpadat kedua setelah Io, satelit Jupiter.
Bulan berada pada rotasi sinkron dengan Bumi, yang selalu memperlihatkan sisi yang sama pada Bumi, dengan sisi dekat ditandai oleh mare vulkanik gelap yang terdapat di antara dataran tinggi kerak yang terang dan kawah tubrukan yang menonjol. Bulan adalah benda langit yang paling terang setelah Matahari. Meskipun Bulan tampak sangat putih dan terang, permukaan Bulan sebenarnya gelap, dengan tingkat kecerahan yang sedikit lebih tinggi dari aspal cair. Sejak zaman kuno, posisinya yang menonjol di langit dan fasenya yang teratur telah memengaruhi banyak budaya, termasuk bahasa, penanggalan, seni, dan mitologi. Pengaruh gravitasi Bulan menyebabkan terjadinya pasang surut di lautan dan pemanjangan waktu pada hari di Bumi. Jarak orbit Bulan dari Bumi saat ini adalah sekitar tiga puluh kali dari diameter Bumi, yang menyebabkan ukuran Bulan yang muncul di langit hampir sama besar dengan ukuran Matahari, sehingga memungkinkan Bulan untuk menutupi Matahari dan mengakibatkan terjadinya gerhana matahari total. Jarak linear Bulan dari Bumi saat ini meningkat dengan laju 3.82 ± 0.07 cm per tahun, meskipun laju ini tidak konstan.[8]Bulan diperkirakan terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu, tak lama setelah pembentukan Bumi. Meskipun terdapat sejumlah hipotesis mengenai asal usul Bulan, hipotesis yang paling diterima saat ini menjelaskan bahwa Bulan terbentuk dari serpihan-serpihan yang terlepas setelah sebuah benda langit seukuran Mars bertubrukan dengan Bumi.

B.            PERISTIWA PERJALANAN  PLANET
Berdasarkan definisi di atas, maka dalam sistem Tata Surya terdapat delapan planet. Hingga 24 Agustus 2006, sebelum Persatuan Astronomi Internasional (International Astronomical Union = IAU) mengumumkan perubahan pada definisi "planet" sehingga seperti yang tersebut di atas, terdapat sembilan planet termasuk Pluto, bahkan benda langit yang belakangan juga ditemukan. Sempat dianggap sebagai planet baru, seperti : Ceres, Sedna, Orcus, Xena, Quaoar, UB 313. Pluto, Ceres dan UB 313 kini berubah statusnya menjadi "planet kerdil/katai."

·           Etimologi
Planet diambil dari kata dalam bahasa Yunani Asteres Planetai yang artinya Bintang Pengelana. Dinamakan demikian karena berbeda dengan bintang biasa, Planet dari waktu ke waktu terlihat berkelana (berpindah-pindah) dari rasi bintang yang satu ke rasi bintang yang lain. Perpindahan ini (pada masa sekarang) dapat dipahami karena planet beredar mengelilingi matahari. Namun pada zaman Yunani Kuno yang belum mengenal konsep heliosentris, planet dianggap sebagai representasi dewa di langit. Pada saat itu yang dimaksud dengan planet adalah tujuh benda langit : Matahari, Bulan, Merkurius, Venus, Mars, Jupiter dan Saturnus. Astronomi modern menghapus Matahari dan Bulan dari daftar karena tidak sesuai definisi yang berlaku sekarang. Sebelumnya, planet-planet anggota tata surya ada 9, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter/Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto. Namun, tanggal 26 Agustus 2006, para ilmuwan sepakat untuk mengeluarkan Pluto dari daftar planet sehingga jumlah planet di tata surya menjadi hanya 8.

·           Planet Dalam Tata Surya 
Menurut IAU (Persatuan Astronomi Internasional) sesuai dengan defenisi yang baru, maka terdapat delapan planet dalam sistem Tata Surya:
1.         Merkurius
2.         Venus
3.         Bumi
4.         Mars
5.         Yupiter
6.         Saturnus
7.         Uranus
8.         Neptunus


C.            SEJARAH

Sejalan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, pengertian istilah “planet” berubah dari “sesuatu” yang bergerak melintasi langit (relatif terhadap latar belakang bintang-bintang yang “tetap”), menjadi benda yang bergerak mengelilingi Bumi. Ketika model heliosentrik mulai mendominasi pada abad ke-16, planet mulai diterima sebagai “sesuatu” yang mengorbit Matahari, dan Bumi hanyalah sebuah planet. Hingga pertengahan abad ke-19, semua obyek apa pun yang ditemukan mengitari Matahari didaftarkan sebagai planet, dan jumlah “planet” menjadi bertambah dengan cepat di penghujung abad itu.
Selama 1800-an, astronom mulai menyadari bahwa banyak penemuan terbaru tidak mirip dengan planet-planet tradisional. Obyek-obyek seperti Ceres, Pallas dan Vesta, yang telah diklasifikasikan sebagai planet hingga hampir setengah abad, kemudian diklasifikan dengan nama baru "asteroid". Pada titik ini, ketiadaan definisi formal membuat "planet" dipahami sebagai benda 'besar' yang mengorbit Matahari. Tidak ada keperluan untuk menetapkan batas-batas definisi karena ukuran antara asteroid dan planet begitu jauh berbeda, dan banjir penemuan baru tampaknya telah berakhir.
Namun pada abad ke-20, Pluto ditemukan. Setelah pengamatan-pengamatan awal mengarahkan pada dugaan bahwa Pluto berukuran lebih besar dari Bumi, IAU (yang baru saja dibentuk) menerima obyek tersebut sebagai planet. Pemantauan lebih jauh menemukan bahwa obyek tersebut ternyata jauh lebih kecil dari dugaan semula, tetapi karena masih lebih besar daripada semua asteroid yang diketahui, dan tampaknya tidak eksis dalam populasi yang besar, IAU tetap mempertahankan statusnya selama kira-kira 70 tahun.
Pada 1990-an dan awal 2000-an, terjadi banjir penemuan obyek-obyek sejenis Pluto di daerah yang relatif sama. Seperti Ceres dan asteroid-asteroid pada masa sebelumnya, Pluto ditemukan hanya sebagai benda kecil dalam sebuah populasi yang berjumlah ribuan. Semakin banyak astronom yang meminta agar Pluto didefinisi ulang dari sebuah planet seiring bertambahnya penemuan obyek-obyek sejenis. Penemuan Eris, sebuah obyek yang lebih masif daripada Pluto, dipublikasikan secara luas sebagai planet kesepuluh, membuat hal ini semakin mengemuka. Akhirnya pada 24 Agustus 2006, berdasarkan pemungutan suara, IAU membuat definisi planet yang baru. Jumlah planet dalam Tata Surya berkurang menjadi 8 benda besar yang berhasil “membersihkan lingkungannya” (Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus), dan sebuah kelas baru diciptakan, yaitu planet katai, yang pada awalnya terdiri dari tiga obyek, Ceres, Pluto dan Eris.


























DAFTAR PUSTAKA
nfoastronomy.org/2016/06/berapa-lama-waktu-yang-dibutuhkan-.html



Sabtu, 21 Maret 2020

Metode Ilmiah Tanaman Cabai Rawit (Tugas Matematika dan Ilmu Alamiah Dasar)




TUGAS MATEMATIKA DAN ILMU ALAMIAH DASAR 

METODE ILMIAH TANAMAN CABAI RAWIT






Oleh    :
NABILA AULIA PRATIWI                                   
(14519556)
1PA10
JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2019/2020









KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah swt. Yang maha pengasih lagi maha penyayang, saya panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada saya,n sehingga saya dapat menyelesaikan metode ilmiah tentang pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai dengan baik.
Adapun metode ilmiah tentang pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai yang telah saya usahakan semkasimal mungkin  dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak. Sehingga dapat memperlancar perbuatan metode ilmiah ini.
Untuk itu, saya tidak lupa menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam pembuatan metodeilmiahini. Namun, tidak lepas darisemua itu, saya  menyadari sepenuhnya  bahwa ada kekurangan. Baik dari segi penyusun bahasnya, maupun segilainnya. Oleh karena itu, dengan lapang dada dan tangan terbuka, saya membuka selebar-lebarnya bagi pembacayang inginmemeberikan saran dan kritikkepada saya. Sehingga kami dapat memperbaiki metode ilmiah ini.



Depok,            Maret  2020

     Penyusun








DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................  i
DAFTAR ISI.............................................................................................................  ii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang Masalah.......................................................................... 1
1.2         Rumusan Masalah................................................................................... 2
1.3         Tujuan dan Manfaat Penelitian...............................................................
BAB TINJAUAN PUSTAKA
2.1         Landasan Teori........................................................................................ 3
2.2         Hipotesis................................................................................................. 4
2.3         Bahan dan Metode Penelitian................................................................. 5
2.4         Hasil dan Pembahasan............................................................................ 6
BAB 3 PENUTUP
Kesimpulan....................................................................................................... 9

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................











BAB 1
PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang Masalah

Cahaya matahari adalah sumberenergi utama bagi kehidupan makhluk hidup di dunia.bagi manusiadan hewan cahaya matahari adalah penerang dunia ini. Selain itu, bagi tumbuhan khususnya yang berklorofil cahaya matahari sangat menentukan proses fotosintesis. Fotosintesis adalah proses dasar pada tumbuhan untuk menghasilkan makanan. Makanan yang dihasilkan akan menentukan ketersediaan energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.
Kekurangan cahaya matahari akan menganggu proses fotosintesis dan pertumbuhan, meskipun kebutuhan cahaya tergantung pada jenis tumbuhan. Selain itu, kekurangan cahaya saat perkecambahan berlangsung akan menimbulkan gejala etiolasi dimana batang kecambah akan tumbuh lebih cepat namun lemah dan daunnya berukuran kecil, tipis, dan bewarna pucat (tidak hijau). Semua ini terjadi dikarenakan tidak adanya cahaya sehingga dapat memaksimalkan fungsi auksin untuk pemanjangan sel-sel tumbuhan. Sebaliknya, tumbuhan yang tumbuh ditempat terang menyebabkan tumbuhan lebih lambat dengan kondisi relatif pendek, daun berkembang baik lebih lebar, lebih hijau, tampak lebih segar, dan batang kecambah lebih kokoh.
Misalnya saja pada tanaman cabai rawit, bagi masyarakat Asia khususnya penduduk Indonesia tanaman cabairawit adalah tanaman yang sangat penting. Dikarenakan Indonesia sangat terkenal dengan masakan yang berbumbu sangat pedas. Selain itu, Indonesia adalah Negara agraris yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Selainitu, sebagian besar penduduk Indonesia juga mempunyai lahan yang ditanami rempah-rempah dan kebutuhan sehari-hari khususnya cabai rawit.
Namun dibalik segala kegunaannya pertumbuhancabai rawit  yang baik itu dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah pengaruh cahaya terhadap pertuambuhan cabai rawit. Mengapa halitu bisa terjadi? Saya akan membahasnya pada ulasan berikut ini.




1.2         Rumusan Masalah

1.2.1        Bagaimanakah pengaruh cahaya matahari terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai rawit?
1.2.2        Bagaimanakah perbedaan pertumbuhan cabairawit yang diletakkan dalam ruangan (kurangcahaya) dan tanaman cabai rawit yang diletakkan diluar rungan (yang mendapatkan banyak cahaya)?


1.3         Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1        Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan membuktikan pengaruh cahaya matahari terhadap pertumbuhandan perkembangan tanaman cabai rawit.
1.3.2        Manfaat yang diambil adalah kita dapat mengetahui pengaruh cahayamatahari terdapat pertumbuhan.







BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1         Landasan Teori
Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan

Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran (massa, panjang) secara kuantitatif yang dihasilkan daripertambahan jumlah sel dan bersifat irreversible (tidak dapat kembali). Perkembangan adalah proses menuju kedewasaan secara kualitatif terhadap pengembangan tubuh organisme.

Faktor-faktor yang mempengaruhi  pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan.
Faktor eksternal:
·           Suhu
·           Cahaya
·           Air
·           Nutrisi
·           Kelembapan udara
·           Tingkat keasaman dan basa (pH)
·           Cahaya

Cahaya merupakan faktor utama sebagai sumber energi dalam fotosintesis,untuk menghasilkan energi. Kekurangan cahaya akan menggangu proses fotosintesisdan pertumbuhan, meskipun kebutuhab cahaya  tergantung pada jenis tumbuhan.

Kekurangan cahaya pada saat perkecambahan berlangsung akan menimbulkan gejala etiolasi, dimana batang kecambah akan tumbuh lebih cepat namun lemah dan daunnya berukuran lebih kecil, tipis, dan bewarna pucat.

Pengaruh cahaya bukan hanya tergantung kepada intensitas (kuat penyinaran) saja, namun ada faktor lain yang terdapat pada cahaya, yaitu berkaitan denganpanjang gelombangnya. Penelitian yang dilakukan oleh Hendricks  dan Borthwick pada tahun 1984, menunjukkan nahwa cahaya yang berpengruh terhadap pertumbuhan adalah pada spectrum merah dengan panjang gelombang 660nm. Percobaan dengan menggunakan spectrum inframerah dengan panjang gelombang 730nm memberikan pengaruh yang berlawanan. Substansi yang merespons terhadap spectrum cahay adalah fitokrom suatu protein warna pada tumbuhan yang mengandung susunan atom khusus yang mengabsorpsi cahaya.

Faktor internal dibagi menjadi dua, yaitu :
3          Fakor intraseluler : gen sebagai pembawa sifat atau lebih dikenal sebagai faktor  hereditas
4          Faktor interseluler : hormon.

2.2         Hipotesis

Hipotesis penelitian ini adalah tanaman cabai rawit diletakkan diluar ruangan maka pertumbuhannya akan lebih lambat namun daunnya tampak lebih lebar, tebal, hijau tampak segar dan batang kecambah tampak lebih kokoh. Dan tanaman cabai yang diletakkan di dalam ruangan maka batang kecambah akan tumbuh lebih cepat namun lemah, daunnya berukuran kecil, tipis, dan bewarna pucat  (tidak hijau).



2.3         Bahan dan Metode Penelitian

Alat dan bahan
1.        Dua buah pot yang berisi tanah
2.        Penggaris
3.        10 biji cabai rawit yang sudah dikeringkan
4.        Cahaya matahari

Langkah kerja
1.        Menentukan variabel-variabel.
-            Varibel bebas               : cahaya matahari
-            Variabel terikat            :  tanah, air, biji cabai rawit, kelembapan, cahaya, dan suhu.
2.        Menyiapkan alat dan bahan
3.        Menanam 5 biji cabai rawit kedalam pot 1 dan meletakkannya di dalam ruangan.
4.        Menanam 5 biji cabai rawit kedalam pot 2 dan meletakkannya di luar ruangan.
5.        Menyirami tanaman cabau rawit setiap dan sore hari.
6.        Mengukur tinggi tiap-tiap tanaman cabai rawit setiap hari.
7.        Mengamati perbedaa-perbedaan yang terjadi antara tanaman pot 1 dan pot 2. Misalnya, jumlah daun, warna daun, dan kokoh tidaknya btang tanaman cabai rawit.
8.        Mencatat hasil pengukuran dan pengamatan ke dalam tabel hasil penelitian

Dari 5 biji tanaman cabai rawit yang di tanamhanya 3 biji yang mengalami perkecambahan. Oleh karena itu,  hanya mengamati dan mengukur tiga biji yang mengalami perkecambahan tersebut.



2.4         Hasil dan Pembahasan

Tabel hasil penelitian pot 1 (tanaman cabai rawit dalam ruangan).

Hari
Tinggi
Jumlah daun
Warna daun
Bentuk daun
Keterangan
1.
0 cm.
-
-
-
Belum terbentuk.
2.
0,5cm.
-
-
-
Proses perkecambahan.
3.
2,5 cm.
-
-
-
Muncul daun.
4.
4,3 cm.
2 helai.
Pucat.
Kecil, tipis.
Pertambahan daun cepat dan batang kecambah tidak kokoh.
5.
5,16 cm.
2 helai.
Pucat.
Kecil, tipis.
Daun tetap, batang kecambah melengkung.
6.
5,67 cm.
2 helai.
Pucat.
Kecil, tipis.
Daun tetap, batang kecambah melengkung.




Tabel hasil penelitian pot 2 (tanaman cabai rawit luar ruangan).

Hari
Tinggi
Jumlah daun
Warna daun
Bentuk daun
keterangan
1.
0 cm.
-
-
-
Belum terbentuk.
2.
0,56 cm.
-
-
-
Proses perkecambahan.
3.
2 cm.
-
-
-
Muncul daun.
4.
2,16 cm.
3 helai.
Hijau.
Tebal.
Pertambahan daun lebih cepat tumbuh dan batang kokoh.
5.
3 cm.
3 helai.
Hijau.
Tebal.
Daun sangat lebat, batang tegak dan kokoh.
6.
3,06 cm.
4 helai.
Hijau.
Lebar.
Batang tegakdan kokoh.




1.             Tanaman cabai rawit pada pot 1 (dalam ruangan).

Mengalami pertambahan tinggi yang sangat cepat, dari hari kehari. Namun pertambahan daunnya lambat, warna daunnya tidak hijau (pucat) dan batang kecambahnya tidak kokoh dan melengkung. Batang kecambah melengkung karenapertambhan tinggi yang sangat pesat, namun batang nya tidak kuat. Tanaman di pot 1 ini mengalami gejala etiolasi, dikarenakan kekurangan cahaya matahari di saat perkecambahan. Gejala etiolasi di tandai dengan pertambhan tinggi yang sangat cepat dikarenakan hormon auksin yang berfungsi dalam perpanjangna sel-sel tumbuhan dapat bekerja secara maksimal ditempat yang tanpa cahaya matahari. Namun kekurangan cahaya itu menyebabkan daun berwarna pucat, berukuran kecil, tipis dan batangnya tidak kokoh karena tanaman tidak bisa melakukan proses fotosintesis sehingga  tanaman kekurangan nutrisi.

2.             Tanaman cabai rawit pada pot 2  (luar ruangan).

Mengalami pertumbuhan yang sangat lambat, namun jumlah daunnya bertambah lebih cepat, bewarna hijau lebar dan tebal dan batang kecambahnya kokoh. Pertumbuhan yang lambat ini disebabkan oleh fungsi hormon auksinyang dihambatoleh cahaya matahari. Namun dengan cahaya matahari yang cukup tanaman tersebut dapat melakukan  proses fotosintesis secara maksimal, sehingga tanaman tersebut memeilik nutrisi yang cukup untukmemenuhi kebutuhan tubuhnya. Nutrisi yang cukup itulah yang menyebabkan tanaman cabai rawit pot 2 tampak lebih gemuk, kokoh berdaun lebar, tebal dan banyak.







BAB 3
PENUTUP
Kesimpulan

1.             Hasil percobaan menunjukkan bahwa :
-            Tanaman didalam ruangan mengalami pertumbuhan lebih cepat dan mempunyai batang yang lebih tinggi, daunnya berukuran kecil, tipis, bewarna pucat, batang melengkung, dan tidak kokoh.
-            Tanaman diluar ruangan pertumbuhannya lebih lambat daunnya lebih lebar dan teba,  bewarna hijau, batang tegak dan kokoh.

2.             Cahaya merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan.








DAFTAR PUSTAKA
Abercrombir, M.et al. 1993. Kamus Lengkap Biologi. SutarmiTS. Dan Sugiri N. Imaningtyas S.A dan Marias, editor. Jakarta : Erlangga. Terjemahan dari : Dictonary of  biology

Anonim. 2013. Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan republik indonesia no. 69 tahun 2013

Applin, D. 2002. Key science biology. Cheltenham : Nelson Thornes Arms, K. And P.S Camp. 1995.biology. Edisi ke-4.Philadelphia : Saunders College
Brotowidjoyo, M.D 1989. Zoologi dasar. Jakarta : Erlangga